Setelah setahun lebih menulis naskah, akhirnya sampailah aku di masa penjualan novel ini: Ilalang & Bunga. Hari-hari ini bukannya menjadi hari penuh rasa senang karena karya yang selama ini dipahat akhirnya terwujud, tapi masa pemesanan justru menjadi masa yang tidak mengenakkan.
Aku harus mencampur sisi seniman dan pedagang di satu jiwa dan raga, dan itu sama sekali tidak nyaman. Menawarkan produk ke teman-teman satu demi satu, meyakinkan mereka bahwa produk ini layak dibeli, dan dengan kedua mata sendiri melihat mereka belum berkenan. Padahal sisi penulis dalam diriku menahan diri untuk mengemis-ngemis pembaca seperti itu seakan aku akan mati kalau mereka tidak mau beli. Aku tidak butuh uang dan keuntungan. Aku hanya butuh cerita ini dibaca orang banyak, dan karena itulah kenapa penawaran produk harus terus berjalan.
Orang-orang yang sebelumnya tampak mendukung ternyata tidak semudah itu jadi percaya dan berkenan membeli karyaku. Tidak ada yang pernah tahu berapa banyak orang yang dengan bermodal percaya akan bersedia mengeluarkan uang untuk membeli novel debutan ini. Ragu menyusup batin dan berkata, apakah memang naskahnya layak untuk dibeli dengan uang dan dibaca khalayak umum? Aku khawatir kalau novel yang kutulis begitu lama ini rupanya tidak menarik bagi orang lain. Aku takut kalau ternyata cerita itu menjadi angin lewat saja, semua ide terasa sia-sia, dan aku pun gagal.
Sampai pada sebuah telepon, seseorang menanyakan pandanganku tentang berhasil dan gagal dalam pengalaman menulis novel ini. Pertanyaan itu mengajakku meninggalkan halimun gelap yang sebelumnya merundung, dan memintaku merenung untuk mencari jawaban terjujur di kedalaman hatiku. Dalam sepersekian detik, aku seperti disetrum dan jantungku pun berdebar. Setelah masa singkat itu, dengan penuh rasa damai dan yakin, aku menjawab bahwa aku sudah berhasil.
Karena dari awal, definisi berhasil dan gagalku bukanlah tentang seberapa laris dan hebohnya penjualan novelku. Namun, ia tentang tanggung jawab atas ide, tentang keteguhan dan konsistensi untuk menyelesaikan cerita, dan tentang naik kelas ke tingkat yang lebih tinggi dalam bersikap, berkarakter, dan dalam berkehidupan.
Aku sudah berhasil sejak aku memilih untuk menulis cerita ini, dan tidak meninggalkannya jadi omong kosong. Aku sudah berhasil sejak ide yang dianugerahkan Tuhan telah selesai kutuliskan dalam tulisan yang tuntas, dan aku tidak menyerah! Aku sudah berhasil sejak naskah Ilalang & Bunga selesai. Dengan rasa cukup ini, aku sudah selesai dengan diriku sendiri. Sisa-sisa sisi materinya biarlah Tuhan yang memberikan pembagian terbaiknya.
Hari ini, kalau novelku belum punya banyak pembeli tidak masalah. Ini novel pertama, mungkin teman-temanku belum tahu kalau aku benar-benar novelis yang punya cerita menakjubkan bagi mereka. Mereka belum tahu. Tidak masalah. Aku tidak boleh jatuh, dan sekali-kali tidak akan menyerah. Besok aku akan kembali menulis, dan menulis, dan menulis. Terus tanpa kenal lelah. Sampai suatu saat nanti ketika karyaku sudah ada belasan dan semuanya berjejer di rak gramedia, akan akan mengenang momen prihatin ini menjadi salah satu bagian hidup yang indah. Saat-saat di mana aku memulai dari nol dan menghayati semua prosesnya dari bawah.

sae.. sae...saestu sae
BalasHapus