Sebening Air Mata Sahabat

 


Kemarin film pendek baruku, "Iya atau Tidak" akhirnya tayang setelah melewati satu tahun produksi. Apa yang wajarnya dirasakan oleh seorang penulis dan sutradara ketika karyanya tayang dan ditonton publik? Senang, bangga, haru? Bagiku rasanya ... ambigu. Sebuah perasaan aneh yang entah apa, yang berkali-kali aku alami setiap kali ada karya yang terpublikasi. Warnanya selalu berbeda, tapi ambiguitasnya terasa sama. 

Dalam balutan rasa ini, aku sekali lagi tenggelamkan diri dalam telaga kontemplasi dan berusaha meraih kembali mutiara-mutiara makna yang menetap di dasarnya. Karya itu apa? Kenapa aku berkarya, dan apakah aku akan berkarya lagi? Apa yang kuharapkan? Sembari kedua tanganku mengepak-ngepak gelombang dan kakiku menghempas-hempas air untuk meraih kedalaman, ada satu kejadian penting dalam hidupku yang menyalakan lampu memori di kepala. Peristiwa tak terlupakan itu terjadi di tahun 2022, di saat Inthiq 1, film pendek pertamaku yang tayang di YouTube, sudah siap tayang.

Sore itu jingga langit Gontor masih tersisa sedikit. Lantunan ayat al-Qur'an menggema dari masjid. Keadaan pondok sudah sepi, para santri sudah ke masjid untuk menanti adzan maghrib. Di gedung Rabithah, para guru mahasiswa berangsur-angsur pulang meninggalkan kuliahnya. Bus besar untuk guru pengabdian Gontor 2 berparkir di depan gedung menanti penumpangnya kembali.

Di depan aula Rabithah, aku berjumpa dengan Putra, karibku yang sudah bersama sejak kelas dua KMI khususnya di bidang kebahasaan. Setelah bersama di kelas dua sampai kelas empat di Istirqa, kelas lima di rumpun ketua penggerak bahasa Rayon, dan akhirnya tinggal satu kamar di bagian Penggerak Bahasa sampai akhir masa nyantri, kami dipisahkan oleh pengabdian. Aku mengabdi di kampus satu, Mlarak, sedangkan dia mengabdi di kampus dua, Siman. Jarak sekian kilometer dan perbedaan ruang abdi mengurangi intensitas pertemuan kami. Untuk bisa bertemu kami sesekali saling sambang, berjanjian untuk ke luar kota bersama, atau paling sederhana adalah mengobrol selepas kuliah karena sama-sama di gedung Rabithah kampus satu. Seperti sore itu, kami duduk di atas pembatas taman aula Rabithah.

Waktu itu, Inthiq 1 setelah digarap satu semester lebih akhirnya sudah selesai editing dan siap tayang. Kata Muadz sang produser, "tunggu tanggal mainnya" alias menunggu tanggal yang tepat dan arahan dari pembimbing Gontor TV. Sangat wajar kalau aku selaku sutradara dan penulis naskah punya film itu di ponselku kendati belum resmi tayang. Dalam getaran antusiasme dan bangga yang besar, aku ingin sekali berbagi hasil karya itu kepada Putra.

Klik untuk menonton Inthiq 1

Aku anggap dia layak dan berhak mendapat pengecualian untuk menonton lebih awal. Karena dia yang menemaniku dari lama dalam menghidupkan lingkungan berbahasa Arab dan Inggris di pondok. Dan kisah-kisah yang pernah kulewati bersama Putra dan teman-teman lainnya di Istirqa' juga yang pada dasarnya jadi inspirasi pembuatan film Inthiq. Kubuka ponselku, dan kusetel Inthiq untuknya.

Saat menampilkannya, aku tidak berekspektasi apapun. Aku hanya ingin berbagi pada Putra. Terus terang Inthiq memang tidak sempurna dan amatiran, tapi aku hanya ingin berkata, "Akhirnya!" untuk Putra. Garis merah dalam putaran video berjalan dan tiga puluh menit berlalu. Adegan dan warna yang penuh keceriaan dalam film silih berganti.

Tiba-tiba aku membisu karena di akhir film yang cerah itu kudapati Putra menitikkan air mata. Dalam sepersekian detik aku berpikir dan mempertanyakan apa yang ditangisi dari film yang ceria ini. Namun, aku pun sadar bahwa puncak kebahagiaan memang bukan senyum, tapi air mata.

Di dalam bening air matanya yang berlinang, kudapati ingatan-ingatan tentang perjalanan kami sejak kelas dua tercemin di sana. Memori berisi jatuh dan bangun yang jujur. Selaksa rasa dengan bentuk abstraknya kini telah diolah menjadi suguhan apik yang bisa ditonton orang banyak lagi abadi. Tanpa perlu ratusan ribu penonton atau tepuk tangan dari khalayak ramai, seketika rasa lelah semasa produksi terbayar lunas.

Penghargaan, pengakuan, pujian hanyalah manisan yang disyukuri untuk diterima secukupnya dan tidak baik banyak-banyak dimakan. Sepaket karunia yang ketika dikejar justru menjauh, tapi ketika dipasrahkan malah justru akan datang dengan cara-cara yang tak terduga. Aku merasa kalau kebahagiaanku telah sepenuhnya kudapat saat niat untuk berbagi cerita direstui Tuhan untuk terjadi. Dan perasaan itu tumbuh semakin megah ketika karya yang kutulis ternyata tidak hanya lafaz kosong, melainkan cerita yang bermakna bagi orang lain, khususnya bagi orang-orang terdekat dan tercinta.

Pengalaman ini memberiku rasa percaya untuk kembali berkarya sebanyak-banyaknya tidak peduli seberapa riuh atau sepi tepuk tangan para penonton, tidak peduli seberapa manis atau pahit komentar para pembaca. Aku hanya ingin berbagi. Berbagi pikiran yang barangkali bisa jadi pelajaran bagi orang lain, berbagi cerita yang barangkali bisa jadi hiburan bagi orang lain, berbagi makna yang barangkali bisa tumbuh dan hidup di hati orang banyak. Karena aku bukan lagi milikku pribadi, tapi milik orang-orang yang ada di dekatku, milik orang-orang yang kucintai. Inilah alasan kenapa aku akan terus dan terus berkarya. 

Semoga akan selalu seperti itu karena: "Aku berkarya, maka aku ada."




Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama