Lewat algoritma genetika, Tuhan menitahkan gigi-gigiku tumbuh besar melampaui batas ruang gusi-gusi yang tersedia. Ketika lihat foto masa kecil, ternyata ada masanya gigiku rapi. Mungkin keteraturan itu berlangsung selama gigi susu masih bersinggasana dan gigi dewasa belum melengserkannya.
Ilustrasi gingsul yang kuidap jauh dari gambaran gingsul manis ala-ala orang-orang jepang (yang ramai di internet) di mana gigi taringnya menonjol di antara sederet gigi lainnya yang tertata lurus. Memberi kesan manis nan estetik.
Gingsulku tidak seperti itu. Gigi seri kiri bagian atasku mengemukakan diri melebihi saudara serinya di sisi kanan bahkan melangkahi posisi seluruh gigi yang lain. Kalau seseorang salah sedikit saja dalam mengambil angle untuk mem-fotoku pasti terlihat sekali betapa majunya dia.
Itu setidaknya yang paling terlihat dan mungkin mengusik mata orang-orang yang memandang estetika dunia hanya dari keteraturan dan tak sanggup menatap ranah abstrak sebagai sebuah keindahan. Namun, bukan hanya si seri. Mungkin kalau ditarik garis khatulistiwa untuk mengukur lurusnya tatanan gigiku, maka gigi taring tidak akan sejajar bahkan geraham punya sisi abstrak yang lebih dalam. Aku punya dua gigi yang berjejer depan-belakang di bagian kanan atas, lalu gigi geraham yang baru tumbuh di ujung gusi entah tumbuh ke arah mana.
Aku tidak pernah merasa bermasalah dengan tatanan gigiku sampai harus memikirkan tatanan gigi baru yang dibentuk lewat kekangan kawat dan tancapan tonggak-tonggak penggeser. Karena ajaibnya, dengan susunan gigi yang mirip lukisan Picasso ini, aku malah tidak pernah sakit gigi. Paling hanya nyeri karena geraham ujung baru mau tumbuh atau tiba-tiba ada biji cabai yang terselip semalaman di celah kegingsulan. Tidak pernah sakit gigi yang serius.
Kebesaran gigi ini adalah warisan genetik dari Ibu yang dapat langsung diketahui secara empirik tanpa perlu penelitian apapun. Rupanya itu juga berasal dari nenek alias ibunya ibu. Tak ayal saudara kandung ibu cenderung punya karakteristik kegigian yang mirip. Lain halnya dengan gigi ibu yang seabstrak lukisan Picasso, gigi ayahku rapi dan presisi layaknya cetak biru bangunan garapan arsitek. Perpaduan genetika ini melahirkan kakakku dan aku yang bergigi abstrak dan adikku yang presisi seperti denah bangunan.
Kakakku ketika remaja, mungkin demi aktualisasi diri, memutuskan pindah aliran gigi, dari natural abstrak surrealis ke susunan yang lebih romantis realis. Demi perpindahan itu dia rela memaku gigi-giginya dengan tonggak-tonggak yang terikat oleh kawat pengekang. Sebuah perjalanan yang menghabiskan banyak biaya dan waktu. Karena keputusannya itu tersisalah aku di antara tiga bersaudara yang tetap bergigi abstrak ala Picasso.
Aku yang masih kecil mencoba mempertanyakan eksistensi dari gigi beserta opsi tatanan yang bisa dimilikinya. Apa itu gigi? Dan kenapa ada yang gingsul dan ada yang rapi? Memang apa perbedaannya? Kontemplasi itu berlangsung sepanjang gigi susu berjatuhan dan gigi permanen bertumbuhan. Akhirnya, aku tetap tidak menemukan alasan untuk repot-repot mencabut unsur alamiah yang dimiliki susunan gigiku. Aku gingsul dan aku bangga.
Pikiran tentang menetapkan kegingsulan tergugat beberapa tahun ini oleh lingkunganku. Gugatan itu bukan karena cemooh atau semacamnya, sebab rasanya orang-orang segan menyoalku dan mungkin struktur tulang wajahku yang cukup seperti goresan tangan Da Vinci bisa menutupi sisi eksperimentalis di mulut. Goncangan itu tiba-tiba aku dapati dari teman-temanku, orang-orang yang tidak pernah kusadari bermasalah susunan giginya, malah memasang kawat. Bagaimana mungkin mereka pindah aliran ke sebelah ketika aku saja tidak pernah merasa mereka semazhab denganku.
Ketika kutanya orang-orang yang melakukan ritual kawat gigi itu, ada yang menjelaskan kalau ada renggang di antara sela gigi-giginya, dan ada yang menjawab kalau beberapa giginya miring sekian derajat. Mereka menambah alasan kalau di Mesir biaya berkawat relatif murah, jadi kenapa tidak?
Kenapa tidak? Aku mulai menyelam kembali ke telaga filsafat di benakku untuk kembali mempertanyakan alasan-alasan. Apakah aku, yang giginya jauh lebih serampangan di banding mereka, sekarang perlu menata ulang gigiku atau tetap pada keyakinan lamaku?
Jawaban kuperoleh saat menjalin panggilan video dengan Ibu selaku sesepuh ikatan gigi gingsul sedunia. Setiap kali berbicara dengan ibu, kami tidak hanya bertukar cerita, tapi sekaligus adu nasib gigi sambil saling menertawai. Kami beradu siapa yang paling berantakan, atau lebih tepatnya siapa yang paling abstrak. Seketika aku sadar, aku punya sesuatu yang hanya dimiliki oleh aku dan ibuku, sesuatu yang sangat dekat, sebuah bukti kalau aku benar-benar putranya. Di antara kami bertiga, obrolan bertopik gigi yang berbalut ledekan ini hanya bisa terjalin oleh Ibuku dan aku. Sebuah alasan yang cukup megah untukku menetap pada bentuk awalku dengan penuh kerelaan.
